AED (Automated External Defibrillator): Fungsi & Cara Penggunaannya
Kesehatan Tubuh

AED (Automated External Defibrillator): Fungsi & Cara Penggunaannya

05 Agustus 2025 5 menit waktu baca
Automated external defibrillator (AED)

 

AED (automated external defibrillator) adalah alat portabel ringan yang berfungsi untuk menganalisis irama jantung dan memberikan kejut atau sengatan listrik untuk mengembalikan irama jantung. Alat ini sering digunakan sebagai pertolongan pertama saat seseorang mengalami henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest). Lantas, bagaimana cara menggunakannya? Mari simak pembahasan selengkapnya di artikel ini.

 

Apa Itu AED (Automated External Defibrillator)?

 

AED adalah jenis defibrillator yang bisa dibawa ke mana saja untuk membantu menangani sudden cardiac arrest secara tak terduga di tempat umum. Alat ini bisa ditemukan di sekolah, bandara, pusat perbelanjaan, bangunan pemerintah, dan tempat umum lainnya. Penderita penyakit jantung kronis yang berisiko tinggi mengalami sudden cardiac arrest mungkin perlu menyediakan alat ini di rumah sebagai pertolongan pertama.

 

Fungsi Automated External Defibrillator

 

Fungsi AED adalah sebagai pertolongan pertama untuk membantu mengembalikan irama jantung pada seseorang yang mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh gangguan aktivitas listrik jantung yang menyebabkan ketidakteraturan detak jantung dan mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga jantung berhenti secara mendadak.

 

Apabila jantung berhenti berdetak, otak dan organ-organ dalam tubuh pun tidak bisa mendapatkan darah kaya oksigen yang dibutuhkan untuk mendukung fungsi vitalnya. Maka dari itu, diperlukan pertolongan pertama dengan defibrillator dalam kurun waktu beberapa menit untuk mencegah kematian. Semakin cepat jantung bekerja kembali, risiko kerusakan permanen pada otak dan organ-organ vital tubuh pun akan semakin rendah.

 

Siapa yang Dapat Menggunakan Automated External Defibrillator?

 

Penggunaan AED hanya diperuntukkan untuk keadaan tak terduga. Selain tenaga medis, hanya tenaga nonmedis seperti petugas pemadam kebakaran, polisi, pramugari, atau siapa pun yang telah mendapatkan pelatihan formal resusitasi jantung paru (CPR) dan penggunaan AED dapat serta boleh mengoperasikan alat ini.

 

Pertolongan pertama untuk penderita henti jantung melibatkan CPR dan penggunaan defibrillator. CPR dapat membantu menjaga aliran darah ke jantung dan otak untuk sementara waktu. Kemampuan melakukan tindakan pertolongan pertama ini merupakan bagian dari bantuan hidup dasar (BHD) atau basic life support (BLS).


Namun, pada beberapa kasus, pemulihan detak jantung juga memerlukan bantuan defibrillator. Kedua metode ini dapat meningkatkan peluang bertahan hidup penderita sudden cardiac arrest sebelum pasien mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
 

 

Cara Menggunakan Automated External Defibrillator

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, baik tenaga medis maupun nonmedis yang telah menjalani pelatihan formal bisa menggunakan AED untuk memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang mengalami sudden cardiac arrest. Berikut langkah-langkah cara menggunakan AED:

 

  1. Periksa respons pasien dengan menepuk bahu pasien sambil memanggilnya dengan suara keras untuk mengecek kesadaran pasien.

  2. Cek pernapasan dan denyut nadi penderita.

  3. Apabila penderita tidak bernapas, denyut nadinya tidak dapat dirasakan, serta tidak sadarkan diri, maka segera minta bantuan ke orang sekitar untuk menghubungi bantuan darurat dari rumah sakit terdekat.

  4. Jika ada orang lain di sekitar, segera membagi tugas. Satu orang dapat memulai CPR dan jika alat AED telah tersedia, segera nyalakan AED.

  5. Nyalakan AED sesuai dengan petunjuk suara. Ikuti petunjuk untuk memeriksa pernapasan dan denyut nadi. Lalu, lakukan prosedur pertolongan pertama dengan meletakkan bantalan AED di dada penderita sesuai dengan petunjuk suara.

  6. Hentikan CPR dan biarkan AED melakukan pemeriksaan irama jantung. Pastikan tidak ada yang menyentuh tubuh penderita untuk mencegah kesalahan analisis AED. AED akan mendeteksi dan memberikan informasi tentang ritme jantung, apakah ritme tersebut "shockable" atau "non-shockable."

  7. Tetap berikan CPR apabila terdeteksi non-shockable. Jika terdeteksi shockable, pasien dapat diberikan kejutan listrik. Sebelum kejutan listrik diberikan, hentikan CPR dan pastikan tidak ada orang yang menyentuh tubuh penderita.

  8. Berdiri tegak dan berikan shock. Setelah shock diberikan, tetap lanjutkan CPR selama sekitar 2 menit.

  9. Setelah CPR diberikan selama 2 menit, periksa detak jantung dan pernapasan penderita.

  10. Kemudian, AED akan kembali menganalisis irama jantung untuk mengetahui apakah kejutan listrik perlu diberikan kembali atau tidak.

  11. Lakukan seluruh tahapan tersebut sesuai petunjuk AED hingga tim medis darurat datang untuk memberikan penanganan lebih lanjut yang dibutuhkan penderita.

 

Cara Kerja Automated External Defibrillator

 

Penggunaan AED dipandu dengan petunjuk suara, teks, dan lampu. Sebagai catatan, AED dapat memiliki dua set bantalan, yaitu untuk anak dan orang dewasa. Namun, anak berusia 8 tahun atau lebih bisa menggunakan bantalan untuk orang dewasa. Berikut adalah cara kerja AED:

 

  • Menyalakan AED sesuai dengan petunjuk.

  • Melepaskan pakaian yang menutupi dada penderita. Seka dada hingga kering apabila diperlukan.

  • Pasang bantalan ke dada penderita. Sebagai catatan, AED bisa digunakan pada anak-anak berusia di bawah 8 tahun dengan bantuan bantalan khusus atau mode pediatrik jika tersedia. Posisi bantalan pada anak berbeda dengan orang dewasa. Sebagai contoh, bayi memerlukan satu bantalan di bagian depan dada dan satu bantalan lainnya di punggung.

  • AED akan memeriksa apakah seseorang memerlukan shock. Jika mesin AED mendeteksi kebutuhan tersebut, mesin akan memerintahkan pengguna untuk mengirimkan shock.

 

Itulah penjelasan seputar automated external defibrillator. Meskipun perannya penting dalam menyelamatkan nyawa, AED hanya bisa digunakan saat keadaan darurat. Untuk memantau kesehatan jantung secara menyeluruh, penderita penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi secara rutin dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat.

 

Penting diketahui bahwa informasi dalam artikel ini hanya bertujuan untuk edukasi dan tidak dapat digunakan untuk menggantikan instruksi dari dokter. Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan sesuai dengan kondisinya sehingga prosedurnya mungkin berbeda-beda. 

 

Dokter juga bisa merekomendasikan serangkaian tes untuk memastikan diagnosis sebelum memberikan perawatan di fasilitas kesehatan yang tersedia di masing-masing rumah sakit. Apabila membutuhkan bantuan darurat, Anda bisa menghubungi darurat medis Siloam Hospitals di 1-500-911

 

Sementara itu, untuk menjadwalkan janji temu dengan dokter secara praktis, gunakan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga bisa membantu Anda mengecek hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam sekarang untuk menggunakan berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail