Kesehatan Tubuh
Terapi Deep Brain Stimulation untuk Distonia dan Sindrom Tourette

Table of Contents
Deep brain stimulation (DBS) adalah prosedur medis yang digunakan untuk membantu mengatasi berbagai gangguan neurologis, termasuk distonia dan sindrom Tourette. Prosedur ini melibatkan pemasangan elektroda kecil di otak untuk menstimulasi area tertentu guna mengurangi gejala yang mengganggu. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai manfaat DBS untuk distonia dan sindrom Tourette, simak artikel berikut ini.
Apa Itu Deep Brain Stimulation (DBS)?
Deep brain stimulation (DBS) adalah prosedur medis yang melibatkan pemasangan elektroda di area tertentu di otak untuk mengontrol sinyal abnormal yang menyebabkan gangguan gerakan. Elektroda ini dihubungkan ke perangkat stimulator yang ditanam di bawah kulit di area dada dan mengirimkan sinyal listrik untuk mengurangi aktivitas saraf yang berlebihan.
DBS telah digunakan untuk mengobati berbagai gangguan neurologis, termasuk penyakit Parkinson, tremor esensial, dan distonia. Kini, prosedur DBS juga mulai diterapkan untuk mengelola gejala pada pasien dengan sindrom Tourette.
“DBS adalah prosedur medis minimal invasif yang berupa pemasangan implan di bagian otak tertentu untuk memperbaiki sinyal saraf abnormal. Teknologi ini digunakan untuk berbagai gangguan neurologi, termasuk Parkinson, tremor, distonia, dan sindrom Tourette. DBS ditujukan untuk penyakit-penyakit saraf tertentu yang tidak responsif terhadap obat dengan hasil baik.”
Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS., F.NF., IFAANS.
Mengenal Distonia dan Sindrom Tourette
Distonia adalah gangguan neurologis yang menyebabkan kontraksi otot menjadi tidak terkendali, sehingga mengakibatkan gerakan berulang atau postur tubuh yang tidak normal. Salah satu bentuk distonia yang sering ditemui adalah servikal distonia atau yang dikenal dengan istilah "tengleng", yaitu kondisi ketika otot leher mengalami kekakuan sehingga dapat menyebabkan posisi kepala menjadi miring secara tidak normal.
Distonia bisa menyerang berbagai bagian tubuh, termasuk otot wajah, pita suara, tangan, dan kaki. Gejalanya bervariasi dari kedutan ringan hingga gerakan yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan nyeri. Diagnosis distonia dilakukan melalui wawancara medis (anamnesis), pemeriksaan fisik, dan jika diperlukan, MRI, atau tes genetik untuk mencari kemungkinan faktor penyebabnya.
Sementara itu, sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan tics motorik dan vokal yang tidak terkendali. Gejala ini dapat berupa kedutan di sekitar wajah, seperti di mata dan pipi (motor tics), hingga suara berdehem atau teriakan mendadak yang tidak dapat dikontrol (vocal tics). Tics membuat penderitanya kesulitan dalam berinteraksi sosial dan dapat menimbulkan kecemasan atau depresi.
Sindrom Tourette sering kali muncul pada usia anak-anak dan lebih umum terjadi pada laki-laki. Beberapa pasien mengalami perburukan gejala saat mengalami stres atau gangguan kecemasan. Diagnosis dilakukan dengan mengamati pola tics dalam jangka waktu tertentu dan menggunakan skala khusus seperti Yale Global Tic Severity Scale (YGTSS).
Kapan DBS Dapat Menjadi Pilihan?
Terapi awal untuk distonia dan Tourette umumnya melibatkan kombinasi pengobatan farmakologis, terapi fisik, dan terapi psikologis. Pemberian obat-obatan ditujukan untuk meredakan nyeri serta mengurangi kontraksi otot yang tidak terkendali.
Sementara itu, fisioterapi dapat membantu pasien dalam memperbaiki postur tubuh dan meningkatkan kemampuan untuk mengontrol gerakan atau gejala yang dialami pasien. Konseling dan terapi perilaku kognitif juga dapat membantu pasien dalam mengatasi dampak psikologis dari kondisi pasien.
Namun, bagi pasien dengan kondisi berat yang tidak membaik dengan metode konvensional, DBS menjadi opsi terapi yang efektif. Umumnya, DBS dapat direkomendasikan jika:
-
Pasien distonia general tidak dapat merespons obat-obatan.
-
Pasien sindrom Tourette dengan tingkat keparahan tinggi yang dinilai dari skor YGTSS.
-
Pasien tidak memiliki kontraindikasi medis seperti gangguan jantung atau ginjal berat.
-
Kondisi lain yang dipertimbangkan oleh dokter.
Bagaimana Prosedur DBS Dilakukan?
Prosedur DBS pada pasien distonia dan Tourette umumnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
-
Evaluasi pasien: Pemeriksaan MRI dilakukan untuk memastikan tidak ada kelainan otak lain seperti tumor atau riwayat stroke. Pasien juga akan menjalani tes psikologis dan tes neurologis seperti scoring test untuk menilai tingkat keparahan gejala dan menilai kelayakan pasien menjalani DBS.
-
Persiapan operasi: Pasien perlu mencukur rambutnya untuk mengurangi risiko infeksi. Head frame dipasang untuk menentukan titik target di otak dengan presisi tinggi. Setelah itu, dilakukan CT scan kepala guna memastikan lokasi elektroda secara akurat.
-
Pemasangan elektroda: Elektroda DBS ditanamkan di globus pallidus interna (GPI) untuk distonia atau thalamus medial untuk sindrom Tourette. Selama operasi, yang berlangsung sekitar 4–5 jam, pasien tetap sadar agar dokter dapat mengevaluasi efek stimulasi secara langsung, termasuk reaksi terhadap stimulasi, sensasi yang dirasakan, serta apakah gejala berkurang.
-
Pemasangan alat pemacu: Setelah elektroda terpasang, alat pemacu akan (baterai) ditempatkan di bawah kulit dada, umumnya di sebelah kanan dan dihubungkan dengan elektroda melalui kabel tipis di bawah kulit.
-
Pemulihan: Pasien umumnya menjalani rawat inap selama 3–5 hari untuk pemantauan kondisi. Jika memiliki faktor risiko tertentu, pasien dapat ditempatkan di high care unit (HCU) untuk pemantauan lebih intensif. DBS akan diaktifkan sekitar dua minggu setelah operasi untuk memastikan hasil yang optimal.
Efektivitas dan Keamanan DBS
Tingkat keberhasilan DBS di Siloam Hospitals dapat mencapai 78%–82%, sejalan dengan keberhasilan internasional. Untuk distonia, efek perbaikan biasanya langsung terlihat setelah prosedur, sementara pada sindrom Tourette, perbaikan gejala dapat memakan waktu hingga beberapa bulan.
Risiko dan Efek Samping DBS
Meskipun DBS umumnya aman, terdapat beberapa risiko yang perlu diperhatikan, seperti:
-
Infeksi atau perdarahan otak akibat operasi.
-
Gangguan mood dan kecemasan pada pasien Tourette.
-
Masalah penglihatan seperti double vision pada pasien distonia jika elektroda tidak dipasang dengan tepat.
Akan tetapi, risiko ini dapat diminimalkan dengan pemantauan ketat dari tim medis multidisiplin. Selain itu, pasien tetap perlu menjalani terapi dan kontrol rutin untuk memastikan bahwa stimulasi yang diberikan tetap optimal.
DBS tidak hanya memberikan kontrol gejala yang lebih baik bagi pasien, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Pada pasien distonia, DBS bahkan dapat menghilangkan gejala sepenuhnya, berbeda dengan Parkinson yang hanya bersifat mengontrol gejala.
Bagi penderita sindrom Tourette, DBS dapat membantu mengurangi intensitas tics secara signifikan, meskipun faktor psikologis tetap perlu diperhatikan dalam perawatan jangka panjang. Efek DBS dapat bertahan selama bertahun-tahun, dan jika stimulasi mulai berkurang, alat pemacu dapat diatur ulang atau baterai diganti sesuai kebutuhan.
Perlu diperhatikan, tidak semua penderita distonia atau Tourette dapat menjalani prosedur ini. DBS direkomendasikan bagi mereka yang mengalami gejala yang sangat mengganggu dan tidak merespons pengobatan lain. Selain itu, pasien harus dalam kondisi kesehatan yang cukup baik untuk menjalani operasi.
Informasi ini disajikan sebagai edukasi kesehatan dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Karena itu, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi distonia dan sindrom Tourette dapat berbeda tergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Untuk kemudahan akses layanan, Anda juga dapat menghubungi Siloam Medical Concierge guna memperoleh informasi jadwal dokter, layanan pemeriksaan, dan fasilitas medis yang tersedia. Mari, ambil langkah perjalanan kesembuhan Anda, di sini, di Indonesia.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, SpBS
Bedah Saraf
Spesialis Bedah Saraf
Siloam Hospitals Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini






