Bulimia - Penyebab, Gejala, dan Bedanya dengan Anoreksia
Kesehatan Mental

Bulimia - Penyebab, Gejala, dan Bedanya dengan Anoreksia

17 November 2025 5 menit waktu baca
bulimia adalah

Table of Contents

Bulimia adalah gangguan makan yang membuat penderitanya cenderung ingin memuntahkan kembali makanan setelah mengonsumsinya. Kondisi yang juga dikenal dengan bulimia nervosa ini termasuk dalam masalah mental berbahaya, bahkan bisa mengancam jiwa.

 

Bulimia banyak dialami oleh remaja dan wanita dewasa yang ingin tampil dengan bentuk badan ideal, sehingga melakukan cara tidak sehat untuk diet. Lantas, apa saja penyebab bulimia, gejala, dan bagaimana pengobatannya? Simak informasi selengkapnya di bawah ini.

 

Apa itu Bulimia?

 

Bulimia adalah kelainan mental yang berpengaruh pada pola makan seseorang. Penderita bulimia mengalami gangguan makan yang terbagi menjadi dua episode, yaitu binge eating dan purging (memuntahkah/mengeluarkan).

 

Binge eating merupakan kebiasaan makan dalam jumlah banyak sekaligus. Selanjutnya, penderita bulimia akan beralih pada episode purging, yaitu mengeluarkan makanan yang telah dikonsumsi guna menghindari kenaikan berat badan. Siklus pola makan yang tidak normal ini terus berlanjut sehingga dapat berdampak buruk pada kesehatan.

 

Perbedaan Anoreksia dan Bulimia

 

Anoreksia dan bulimia adalah dua kondisi yang berkaitan dengan gangguan makan. Lantas, apa perbedaan dari keduanya?

 

Anoreksia adalah gangguan makan yang ditandai dengan penurunan berat badan secara drastis yang disertai gangguan metabolisme/hormon pada penderitanya. Penderita anoreksia ditandai dengan tubuh yang sangat kurus. Sementara itu, penderita bulimia tidak selalu memiliki berat badan kurang, bahkan tak jarang penderita bulimia memiliki berat badan berlebih.

 

Penyebab Bulimia

 

Hingga kini, penyebab bulimia belum diketahui secara pasti. Terdapat dugaan bahwa kondisi ini berkaitan dengan faktor genetik, kesehatan mental, standar sosial, atau ekspektasi masyarakat. Meski begitu, beberapa faktor yang diketahui dapat memicu seseorang mengalami bulimia adalah sebagai berikut:

 

  • Faktor keluarga: Risiko seseorang mengalami bulimia akan semakin tinggi apabila memiliki riwayat keluarga dekat dengan kondisi serupa (orang tua atau saudara kandung).
  • Faktor pekerjaan: Beberapa pekerjaan yang menuntut seseorang untuk memiliki bentuk tubuh ideal, seperti model atau atlet. Tuntutan tersebut sering kali membuat seseorang ingin memiliki tubuh sempurna sehingga memicu terjadinya bulimia.
  • Faktor sosial: Bulimia dapat terjadi ketika ada pengaruh, tekanan, atau kritik dari masyarakat atau orang-orang di sekitarnya, terutama mengenai bentuk tubuh atau berat badan.
  • Faktor emosional dan psikologis: Seseorang yang menderita masalah psikologi, seperti OCD (obsessive compulsive disorder), PTSD (post traumatic stress disorder), atau gangguan kecemasan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami bulimia.

 

Gejala Bulimia

 

Gejala atau tanda-tanda yang umumnya terlihat pada penderita bulimia adalah sebagai berikut:

 

  • Memikirkan berat badan dan bentuk tubuh secara berlebihan.
  • Muncul ketakutan atau kecemasan berlebih ketika mengalami kenaikan berat badan.
  • Makan dalam porsi banyak dalam waktu yang singkat.
  • Memaksa mengeluarkan makanan dengan memuntahkannya atau berolahraga secara berlebihan untuk menghindari kenaikan berat badan.
  • Penggunaan obat pencahar secara berlebih.
  • Kulit terasa lebih kering dan kuku mudah mengelupas.
  • Siklus menstruasi tidak teratur.
  • Proses penyembuhan luka menjadi lebih lama.
  • Sering lepas kendali saat makan hingga perut terasa sakit dan bergegas memuntahkannya setelah selesai makan.
  • Pembengkakan di wajah, pipi, tangan, kaki, hingga kelenjar getah bening.
  • Gigi rusak dan menimbulkan bau mulut.
  • Nyeri perut atau perut kembung.

 

Diagnosis Bulimia

 

Sebelum menegakkan diagnosis pada pasien bulimia, dokter akan melakukan tanya jawab kepada pasien dan keluarga terkait gejala-gejala yang dialami. Kemudian, dokter akan melanjutkannya dengan pemeriksaan fisik yang dimulai dari pemeriksaan kondisi gigi hingga mata.

 

Penderita bulimia cenderung mengalami kerusakan pada enamel gigi akibat paparan asam ketika muntah. Muntah yang berlebihan juga dapat menyebabkan pembuluh darah pada mata menegang bahkan berisiko pecah.

 

Apabila pemeriksaan penunjang dibutuhkan, dokter akan meminta pasien untuk menjalani tes EKG dan tes darah untuk mendeteksi gangguan pada kalium, magnesium, atau zat lainnya pada tubuh.

 

Komplikasi Bulimia

 

Bulimia yang terus berlangsung dalam jangka panjang berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi. Beberapa efek negatif dari bulimia adalah sebagai berikut:

 

  • Dehidrasi parah yang dapat berujung gagal ginjal.
  • Kerusakan pada gigi, radang tenggorokan, dan penyakit gusi.
  • Gangguan pada jantung dan pembuluh darah, seperti aritmia dan gagal jantung.
  • Pada wanita, bulimia dapat menyebabkan siklus haid tidak teratur.
  • Gangguan mental, salah satunya bipolar disorder.
  • Berisiko tinggi melukai diri sendiri atau melakukan percobaan suicide.
  • Selalu merasa rendah diri dan berpengaruh pada memburuknya hubungan dengan orang sekitar.

 

Pengobatan Bulimia

 

Selain dari diri sendiri, pengobatan bulimia sering kali membutuhkan dukungan pihak lain yang mencakup keluarga, psikolog, dan ahli gizi. Perawatan yang dianggap paling efektif untuk mengatasi bulimia adalah menggabungkan prosedur psikoterapi dengan obat antidepresan. Berikut penjelasan mengenai beberapa pengobatan untuk bulimia:

 

Psikoterapi

 

Psikoterapi dikenal juga sebagai konseling psikologis atau terapi bicara. Psikoterapi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:

 

  • Terapi perilaku kognitif, untuk membantu menormalkan pola makan dan meyakinkan pasien bahwa bulimia merupakan hal negatif dan menggantinya dengan kebiasaan yang sehat.
  • Psikoterapi interpersonal, untuk membantu memecahkan masalah yang dialami pasien, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta mengatasi kesulitan dalam hubungan dengan orang terdekat.
  • Perawatan berbasis keluarga, untuk membantu keluarga dalam upaya mengubah pola makan dan pola hidup yang tidak sehat, serta memberi dukungan pada pasien untuk menghadapi permasalahan yang dialaminya.

 

Obat-obatan

 

Obat-obatan seperti antidepresan yang dikonsumsi bersamaan dengan prosedur psikoterapi dapat membantu mengurangi gejala bulimia.

 

Edukasi Nutrisi

 

Berkonsultasi dengan ahli gizi dapat membantu pasien bulimia untuk mewujudkan kebiasaan makan yang sehat. Menerapkan pola makan sehat menjadi salah satu hal utama dalam mengatasi bulimia.

 

Cara Mencegah Bulimia

 

Beberapa upaya yang dapat Anda terapkan untuk mencegah terjadinya bulimia adalah sebagai berikut:

 

  • Menumbuhkan rasa cinta pada diri sendiri bagaimanapun bentuk dan ukuran tubuh yang dimiliki.
  • Menerapkan gaya hidup sehat, seperti rutin olahraga dan konsumsi makanan sehat.
  • Menghindari diet yang tidak sehat, seperti penggunaan obat pencahar atau suplemen penurun berat badan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

 

Apabila Anda ingin memiliki berat badan yang ideal, usahakan untuk melakukan olahraga dan diet secara sehat. Anda dapat berkonsultasi secara online dengan ahli gizi Siloam Hospitals melalui layanan telekonsultasi yang bisa diakses melalui aplikasi MySiloam.

 

Anda juga bisa memesan paket medical check up - Healthy Catering Homecare dari Siloam Hospitals untuk menyediakan makanan sehat di rumah setiap hari. Paket ini telah mencakup konsultasi dengan ahli gizi secara gratis, kunjungan perawat, dan jasa pengiriman.


Pemesanan paket katering tersebut dapat dilakukan melalui aplikasi MySiloam atau dengan menghubungi call center kami di 1-500-181. Mari percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail