Hipokondriasis, Kondisi saat Seseorang Merasa Sakit Parah
Kesehatan Mental

Hipokondriasis, Kondisi saat Seseorang Merasa Sakit Parah

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
hipokondriasis

Hipokondriasis adalah gangguan kecemasan yang mana penderitanya merasa bahwa ia menderita penyakit yang parah. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan medis, hasilnya normal. Pada kondisi ini, seseorang sering menganggap bahwa gejala biasa, misalnya rasa lelah sesudah beraktivitas, merupakan tanda dari penyakit berbahaya.

 

Lantas, apa yang menyebabkan seseorang mengalami hipokondriasis (illness anxiety disorder)? Mari simak pembahasan selengkapnya tentang hipokondriasis melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Hipokondriasis?

 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hipokondriasis adalah suatu kondisi di mana penderitanya percaya bahwa dirinya menderita penyakit yang parah, sekalipun hasil pemeriksaan medisnya menunjukkan ia sehat atau tidak mengidap penyakit serius. Kondisi ini termasuk dalam gangguan kecemasan.

 

Penderita hipokondriasis meyakini bahwa sensasi tubuh yang normal, seperti otot berkedut atau kelelahan, setelah melakukan aktivitas tertentu merupakan tanda penyakit berbahaya. Hal ini kemudian dapat membuat penderitanya merasa cemas berlebihan.

 

Sebagai informasi, The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association tidak lagi menyertakan hipokondriasis sebagai diagnosis. Kini, kondisi ini disebut dengan illness anxiety disorder.

 

Prevalensi atau angka kejadian hipokondriasis dilaporkan bersikar antara 0,02–7% pada penelitian populasi umum dan berkisar antara 0,8–8,5% pada penelitian di layanan primer. Hipokondriasis biasanya muncul pada masa dewasa awal namun dapat menyerang semua usia dan jenis kelamin.

 

Hipokondriasis atau illness anxiety disorder terbagi menjadi 2 jenis, yaitu care seeking dan care avoidant. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Care seeking: Penderita jenis hipokondriasis ini sering menjalani tes kesehatan meski hasil tes menunjukkan bahwa kondisinya normal. Pemeriksaan berulang tersebut dilakukan karena penderita meyakini bahwa dokter sebelumnya salah mendiagnosis.

  • Care avoidant: Penderita jenis hipokondriasis ini cenderung menghindari pemeriksaan karena takut bahwa hasilnya akan menunjukkan bahwa ia sakit parah. Namun, hal tersebut juga bisa terjadi karena penderita kerap tidak percaya dengan hasil pemeriksaannya.

 

Penyebab Hipokondriasis

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab hipokondriasis atau illness anxiety disorder. Namun, terdapat beberapa faktor yang diduga berperan dalam terjadinya hipokondriasis, yaitu kepercayaan, keluarga, dan pengalaman di masa lalu. Berikut uraian selengkapnya.

 

  • Kepercayaan. Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan untuk menoleransi gejala atau sensasi tertentu yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada tubuh. Hal ini dapat menyebabkan seseorang mencari bukti untuk mengonfirmasi bahwa ia menderita penyakit serius.

  • Keluarga. Terkadang, memiliki keluarga yang menunjukkan kecemasan secara berlebihan terhadap kesehatan seseorang dapat membuat orang meyakini bahwa sensasi ringan yang tidak biasa dari tubuh merupakan tanda penyakit serius.

  • Pengalaman masa lalu. Pengalaman sakit parah di masa lalu atau saat masa kanak-kanak dapat menyebabkan seseorang merasa ketakutan bila mengalami sensasi fisik tertentu. 

 

Selain beberapa hal di atas, sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipokondriasis adalah sebagai berikut:

 

  • Mengalami masa-masa stres yang tinggi.

  • Mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi atau gangguan cemas.

  • Ancaman penyakit serius yang ternyata tidak serius.

  • Trauma masa kecil.

  • Memiliki keluarga dengan penyakit serius.

  • Menggunakan internet terkait informasi kesehatan secara berlebihan.

 

Gejala Hipokondriasis

 

Hipokondriasis adalah kondisi yang membuat penderitanya menganggap bahwa munculnya sensasi tertentu dalam tubuh merupakan tanda penyakit serius. Misalnya, saat mengalami batuk-batuk, ia akan meyakini bahwa kondisi tersebut merupakan gejala tuberkulosis atau kanker paru-paru, terutama jika orang yang dekat dengannya baru saja mengalami gejala serupa namun dengan diagnosis serius. 

 

Selain itu, penderita juga menunjukkan perubahan perilaku, seperti:

 

  • Sering memeriksa dirinya untuk mencari tanda-tanda penyakit.

  • Merasa cemas berlebihan karena meyakini bahwa ia menderita penyakit serius.

  • Membuat janji temu dengan dokter berulang kali guna memastikan adanya penyakit meski hasil pemeriksaannya selalu negatif.

  • Memeriksa kondisi tubuh berulang kali, misalnya mengukur suhu tubuh.

  • Menceritakan kondisi tubuhnya secara berlebihan kepada orang lain.

  • Menghabiskan waktunya untuk mencari informasi di internet mengenai gejala yang dialami.

  • Menghindari tempat, orang, atau aktivitas tertentu karena takut tertular penyakit.

  • Kesulitan tidur.

 

Diagnosis Hipokondriasis

 

Dalam proses penegakan diagnosis hipokondriasis, dokter akan melakukan anamnesis untuk mengetahui seluruh riwayat penyakit pasien, terutama riwayat psikiatrik karena sering kali orang dengan hipokondriasis memiliki gangguan psikiatrik yang mendasari.

 

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk memastikan kemungkinan penyakit yang diderita oleh pasien. Selain itu, apabila diperlukan, dokter juga dapat menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan penunjang sepertih tes darah dan tes pencitraan (rontgen, CT scan, atau MRI).

 

Guna mengonfirmasi diagnosis hipokondriasis, dokter mengacu pada karakteristik illness anxiety disorder yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5). Dalam buku tersebut, sejumlah karakteristik illness anxiety disorder atau hipokondriasis adalah sebagai berikut:

 

  • Memiliki kecemasan berlebihan dan berfokus terus-menerus (preokupasi) terhadap kondisi kesehatannya dan meyakini bahwa dirinya menderita penyakit serius.

  • Tidak muncul gejala somatik atau munculnya hanya ringan.

  • Cemas berlebihan terhadap suatu kondisi yang diyakini bisa membahayakannya.

  • Memeriksa kondisi diri sendiri berulang kali.

  • Tanda dan gejala berlangsung setidaknya selama 6 bulan.

  • Gejala yang dialami pasien bukan dipicu oleh gangguan mental lain.

 

Cara Mengatasi Hipokondriasis

 

Bila tidak segera diobati, hipokondriasis dapat menyebabkan kehidupan sosial penderitanya terganggu atau timbulnya masalah ekonomi akibat terlalu sering melakukan pemeriksaan. Kondisi ini juga membuat penderitanya lebih rentan mengalami gangguan mental, seperti somatic symptom disorder dan depresi.

 

Tujuan pengobatan hipokondriasis adalah membantu pasien mengendalikan rasa cemas, sehingga bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal. Adapun pengobatan yang umumnya dilakukan adalah psikoterapi dan pemberian obat antidepresan.

 

Jenis psikoterapi yang digunakan untuk mengobati hipokondriasis adalah terapi perilaku kognitif. Pada terapi ini, pasien akan dilatih untuk mengelola kecemasan saat merespons gejala fisik atau sensasi tertentu pada tubuh.

 

Sementara itu, obat antidepresan yang dapat diberikan adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Obat ini mampu mengurangi perasaan cemas berlebihan pada pasien illness anxiety disorder.

 

Selain psikoterapi dan obat-obatan, pasien mungkin disarankan untuk membuat buku harian untuk mencatat seberapa sering pasien memeriksa kondisi tubuhnya atau mencari tahu di internet tentang penyakit tersebut. 

 

Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiatri) biasanya juga akan menyarankan penderita untuk makan sehat dan teratur serta olahraga rutin agar pasien dapat merasa sehat. Selain itu, pasien dianjurkan menghindari obat atau zat yang dapat memengaruhi suasana hati, memperparah gejala, atau mengganggu tidur, seperti kafein, alkohol, dan nikotin.

 

Bila tidak segera ditangani, hipokondriasis dapat menghambat aktivitas sehari-hari penderitanya. Untuk itu, bila Anda atau kerabat mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi hipokondriasis, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals.


Jangan khawatir jika Anda tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi rumah sakit karena Anda tetap bisa berkonsultasi dengan dokter melalui layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Aplikasi ini juga memungkinkan Anda menggunakan berbagai fitur lain yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

telechat (1)

message

ArticleDetail