Kardiomiopati Hipertrofi, Penebalan Otot Jantung yang Perlu Diwaspadai
Kesehatan Tubuh

Kardiomiopati Hipertrofi, Penebalan Otot Jantung yang Perlu Diwaspadai

26 Januari 2026 6 menit waktu baca
kardiomiopati hipertrofi adalah

 

Kardiomiopati hipertrofi adalah penebalan otot jantung akibat mutasi (perubahan) pada gen protein sarkomer. Kondisi perubahan struktural jantung ini biasanya terjadi pada ventrikel kiri dan septum (dinding yang memisahkan) ventrikel. Kebanyakan kasus kardiomiopati hipertrofi tidak memunculkan gejala. Namun, sebagian kecil penderitanya mungkin mengalami gejala serius, seperti nyeri dada dan jantung berdebar-debar. Mari simak pembahasan selengkapnya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Kardiomiopati Hipertrofi?

Sumber: American Heart Association

 

Kardiomiopati hipertrofi adalah penyakit jantung kompleks yang berdampak pada otot jantung. Kondisi ini dapat membuat otot jantung menebal atau membesar, terutama bagian ventrikel (bilik jantung) hingga ke septum (dinding pembatas antara ventrikel jantung). 

 

Dinding jantung dapat menebal dan menjadi kaku sehingga lebih sulit memompa darah ke seluruh tubuh. Selain penebalan otot jantung, beberapa perubahan yang dapat terjadi pada jantung akibat kardiomiopati hipertrofi adalah: 

 

  • Ventrikel kiri menjadi lebih kaku. Hal ini membuatnya tidak mampu berelaksasi dengan normal. Akibatnya, tekanan pada ventrikel kiri pun meningkat dan kapasitasnya berkurang sehingga volume darah kaya oksigen yang dipompakan ke seluruh organ tubuh menjadi berkurang.

  • Penebalan otot jantung dapat menyebabkan penyempitan pada jalur aliran darah keluar dari ventrikel dan dapat mengganggu fungsi katup mitral. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kebocoran pada katup mitral (regurgitasi mitral) yang dapat membuat darah mengalir kembali ke atrium kiri.

  • Perubahan pada sel-sel otot jantung menjadi tidak teratur yang dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan mikroskopis. Perubahan ini dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung, termasuk atrial fibrilasi, yang berpotensi menyebabkan stroke dan serangan jantung

 

Kondisi kardiomiopati hipertrofi terbagi menjadi dua jenis, yaitu obstruktif (penyumbatan) dan nonobstruktif. Berikut penjelasannya:

 

  • Kardiomiopati hipertrofi obstruktif ditandai dengan penebalan otot jantung, biasanya pada dinding (septum) di antara dua bilik jantung (ventrikel). Penebalan otot jantung yang paling umum ini dapat menyumbat aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta sehingga alirannya menjadi lebih sedikit.

  • Kardiomiopati hipertrofi nonobstruktif menyebabkan penebalan otot jantung tanpa menghalangi aliran darah yang keluar dari jantung.

 

Penyebab Kardiomiopati Hipertrofi

 

Kardiomiopati hipertrofi biasanya disebabkan oleh perubahan atau mutasi genetik yang menyebabkan otot jantung menebal. Kedua gen yang menyebabkan kondisi ini adalah MYH7 dan MYBPC3. Anak dari orang tua yang memiliki gen penyebab kardiomiopati hipertrofi dapat mewarisi kondisi tersebut. Namun, keberadaan gen ini tidak selalu menyebabkan seseorang mengalami kardiomiopati hipertrofi.

 

Selain mutasi genetik, kardiomiopati hipertrofi juga dapat disebabkan oleh penuaan dan kondisi medis lain, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). Namun, terkadang penyebab kardiomiopati hipertrofi tidak dapat diketahui (idiopatik). Apabila tidak mendapatkan penanganan, kondisi ini dapat berkembang dan berisiko tinggi menyebabkan atrial fibrilasi yang dapat berujung pada pembekuan darah, stroke, dan komplikasi jantung lainnya.

 

Gejala Kardiomiopati Hipertrofi

 

Pada awalnya, kardiomiopati hipertrofi mungkin tidak disertai gejala. Namun, gejala dapat muncul seiring berkembangnya kondisi penebalan otot jantung. Adapun gejala-gejala tersebut berupa:

 

  • Nyeri dada, utamanya ketika menjalani aktivitas fisik. Namun, tidak menutup kemungkinan gejala ini juga bisa dirasakan ketika beristirahat atau setelah makan.

  • Sesak napas (dispnea) dan kelelahan akibat tekanan yang meningkat di atrium kiri dan paru-paru, terutama saat beraktivitas. Gejala ini lebih sering terjadi pada orang dewasa. Sesak napas juga bisa terjadi ketika berbaring (ortopnea).

  • Pingsan (sinkop) saat berolahraga atau beraktivitas fisik akibat irama jantung yang tidak teratur atau respons abnormal dari pembuluh darah.

  • Jantung terasa berdetak terlalu cepat atau sensasi berdebar-debar di dada (palpitasi jantung).

  • Gangguan irama jantung (aritmia).

  • Pembengkakan pada bagian bawah tubuh atau pembuluh darah leher.

  • Meningkatnya tekanan pada vena jugularis.

 

Diagnosis Kardiomiopati Hipertrofi

 

Dokter akan memulai diagnosis kardiomiopati hipertrofi dengan melaksanakan anamnesis (wawancara medis) untuk menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien serta keluarga. Setelahnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, utamanya mengecek organ jantung dan paru-paru. Pada tahap ini, dokter akan menggunakan stetoskop untuk memeriksa murmur jantung

 

Kemudian, untuk menegakkan diagnosis kardiomiopati hipertrofi, dokter dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

 

  • Tes darah untuk memastikan adanya beberapa faktor penyebab, seperti mutasi genetik, troponin I, dan troponin T.

  • Elektrokardiogram (EKG) untuk mengukur aktivitas listrik di dalam jantung.

  • Ekokardiogram untuk mendapatkan gambar jantung ketika berdetak dan alirannya sehingga dokter bisa mengetahui kemampuan ventrikel dan katup jantung dalam memompa darah.

  • Rontgen atau CT scan untuk membuat gambar jantung atau dada menggunakan sinar-X.

  • Holter monitoring atau pemeriksaan irama jantung menggunakan alat portabel yang akan merekam aktivitas jantung terus menerus selama 24–48 jam.

  • Stress test untuk mengetahui bagaimana jantung merespons aktivitas fisik.

 

Komplikasi Kardiomiopati Hipertrofi

 

Kardiomiopati hipertrofi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan sejumlah komplikasi. Beberapa komplikasi akibat gangguan otot jantung ini adalah sebagai berikut:

 

  • Atrial fibrilasi: Otot jantung yang lebih tebal dan perubahan struktur mikroskopisnya dapat membuat detak jantung tidak teratur dan sering kali sangat cepat. Tidak hanya itu, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko pembekuan darah yang mungkin menjalar ke otak dan menyebabkan stroke.

  • Penghambatan aliran darah: Penebalan otot jantung sering kali menghambat aliran darah yang meninggalkan jantung sehingga dapat menyebabkan sesak napas yang disertai nyeri dada dan pusing karena bagian-bagian tubuh tidak menerima darah dengan cukup.

  • Iskemia miokard: Berkurangnya aliran darah ke otot jantung sehingga berisiko menyebabkan kematian sel jantung. 

  • Kardiomiopati dilatasi: Pada sebagian kecil kasus kardiomiopati hipertrofi, otot jantung yang menebal menjadi lemah dan tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini bisa menyebabkan bilik membesar sehingga menyebabkan kekuatan memompa darah jantung menurun.

  • Regurgitasi katup mitral: Kondisi ketika katup di antara bilik kiri jantung tidak dapat menutup dengan baik sehingga darah bisa berbalik ke atrium kiri.

  • Gagal jantung: Jantung tidak bisa memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

  • Endokarditis bakteri: Infeksi bakteri pada katup jantung.

  • Kematian jantung mendadak: Terkadang, penebalan otot jantung bisa menyebabkan kematian. Komplikasi ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak muda yang aktif berolahraga dan atlet.

 

Pengobatan Kardiomiopati Hipertrofi

 

Dokter akan menyesuaikan pengobatan kardiomiopati hipertrofi dengan beberapa faktor, seperti fungsi jantung, gejala, mengidap aritmia, serta usia dan tingkat aktivitas pasien. Tujuan pengobatan kardiomiopati hipertrofi adalah untuk mengurangi risiko komplikasi. Adapun beberapa pilihan penanganannya meliputi:

 

  • Perubahan gaya hidup, seperti:

    • Membatasi asupan cairan dan garam sesuai dengan anjuran dari dokter.

    • Berolahraga tidak terlalu berat, sesuai anjuran dokter.

    • Melakukan konsultasi secara teratur dengan dokter.

    • Mengurangi risiko infeksi sesuai anjuran dari dokter.

  • Konsumsi obat-obatan yang dapat mencegah komplikasi, seperti beta blocker dan calcium channel blocker. Kondisi kardiomiopati hipertrofi obstruktif juga bisa ditangani dengan obat antibiotik yang dapat mengurangi risiko endokarditis bakteri.

  • Prosedur medis, seperti:

    • Miektomi septum: Pengangkatan sedikit dinding septum yang menebal untuk memperlebar jalur yang dilalui darah dari ventrikel kiri ke aorta.

    • Alcohol septal ablation: Prosedur noninvasif dengan memberikan etanol (salah satu jenis alkohol) melalui kateter pembuluh darah untuk mematikan sel-sel abnormal yang mengalami hipertrofi sehingga jaringan otot jantung yang menebal dapat menyusut ke ukuran yang lebih normal.

    • Implantable cardioverter defibrillator (ICD): Digunakan untuk membantu pasien yang berisiko mengalami aritmia atau kematian jantung mendadak.

    • Transplantasi jantung: Prosedur pembedahan untuk mengganti jantung yang terdampak dengan jantung donor yang sehat. Langkah ini diambil ketika konsumsi obat-obatan dan metode penanganan lainnya tidak lagi bekerja.

 

Kardiomiopati hipertrofi membutuhkan penanganan dengan segera untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dalam hal ini, Siloam Hospitals Group menyediakan layanan Chest Pain Ready Hospitals dengan 24/7 unit terintegrasi, dokter spesialis jantung siaga, cath lab, dan perawat bersertifikasi untuk kondisi kegawatan jantung.

 

Apabila mengalami sesak napas yang tak kunjung membaik disertai nyeri dada tak tertahankan, segera kunjungi Siloam Hospitals atau hubungi emergensi 1-500-911 untuk penanganan gangguan jantung yang #CepatTepat. Setiap detik merupakan momen berharga sehingga penanganan yang cepat dan tepat harus dilakukan untuk mencegah perburukan kondisi jantung. Dalam memilih rumah sakit jantung terbaik, pastikan untuk mempertimbangkan referensi, rekam jejak, serta layanan kesehatan unggulan.

 

Lebih lanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi mengenai tips perawatan jantung serta pencegahan gangguan jantung bersama Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals terdekat. Dengan begitu, Anda bisa memperoleh informasi yang lebih komprehensif sesuai dengan kondisi tubuh.

 

 

banner artikel cardiac by age

Sumber

American Heart Association. Hypertrophic Cardiomyopathy (HCM). Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Hypertrophic cardiomyopathy. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Hypertrophic Cardiomyopathy. Diakses pada 2024 | NCBI. Hypertrophic Cardiomyopathy. Diakses pada 2024 | Journal of the American College of Cardiology. Diagnosis and Evaluation of Hypertrophic Cardiomyopathy: JACC State-of-the-Art Review. Diakses pada 2024 | NCBI. Dilated Cardiomyopathy. Diakses pada 2024 | Circulation Journal. Infective Endocarditis in Hypertrophic Cardiomyopathy. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail